Belajar dari Anak

KERAP bertingkah sesuka hati tidak membuat para guru kesal dengan muridnya. Sebaliknya, mereka mendapat banyak inspirasi dan strategi untuk membuat muridnya nyaman dan tenang mengikuti pelajaran.

Imelda Tirtadiredja, pelatih yoga khusus anak dan pemilik Colour Yoga ini, sering mendapat ide untuk membuat suasana kelasnya tenteram. Ia tidak pernah membiarkan kelas dimulai tanpa membawa tema tertentu.

Seperti pada Rabu (25/2) siang, Imelda mengajak muridnya Alisa untuk merasakan sedang berada di pantai. Ia meminta Alisa untuk menyebutkan apa saja yang dapat dilihat ketika berada di pantai.Pohon, ombak, hingga kursi disebut dan menjadi posisi yoga yang akan diberikan oleh Imelda.

Perempuan yang juga psikolog anak itu mengaku kebanyakan muridnya datang berdasar kemauan orangtuanya. Namun, ia mengembalikan keputusan kepada anak setelah mereka mencoba kelas gratis. Jika anaknya tidak mau, tidak akan berlanjut untuk mengikuti kelas-kelas berikutnya.Hanya saja sepengetahuan Imel, jarang sekali anak yang tidak mau melanjutkan kelas yoga seusai satu kali sesi kelas gratis.

Layaknya drama, ada-ada saja kegiatan lain yang dilakukan oleh anak saat latihan berlangsung. Bercanda, tidak memerhatikan instruksi, atau malah menyakiti sang guru, semua itu sudah dirasakan Imel yang juga memiliki murid berkebutuhan khusus. Dari lika-liku tingkah laku itulah, Imel mendapat berbagai strategi yang kerap digunakan ketika kondisi kelas sudah tidak kondusif.

“Harus dengan cinta tanpa syarat, anak-anak itu bisa melihat mana yang baik dan tidak. Saya pernah mengalami sendiri ketika emosi saya sedang tidak baik dan melakukan pengajaran, murid saya langsung tidak mau mengikuti apa yang saya instruksikan. Mereka melihat saya seperti berpura-pura. Sejak saat itu saya tidak pernah bekerja dalam emosi yang tidak baik. Anak-anak bisa membaca hal tersebut,“ cetusnya seusai latihan.

Pelajaran lain yang datang dari murid juga dialami Maya, pengajar yoga anak pada Rockstar Gym. Ia merasa emosi dirinya semakin terkendali seiring dengan menjadi pengajar bagi anak-anak.Tidak seperti remaja yang dapat diberi tahu satu kali dengan ucapan verbal, anak-anak memerlukan hal lebih dari sekedar verbal.Bahasa tubuh yang baik justru mampu melunakkan tingkah laku mereka yang beraneka macam.

“Pasti ada pemicu, kalau satu sudah beraksi, yang lain akan mengikuti ha ha ha. Begitulah anak-anak. Ini yang saya pelajari, bagaimana agar si pemicu bisa kembali duduk tenang dan tidak mengganggu pelajaran. Seperti saya ajak dia pergi keluar kelas sebentar untuk menenangkan diri, jika sudah siap kembali belajar, ia boleh masuk kembali,“ kata Maya.(Wnd/M-4) Media Indonesia, 1 Maret 2015, Halaman 6

0 komentar:

Posting Komentar