Promosi Jilbab tanpa Wajah Model

Menjual jilbab tanpa wajah model menjadi gerakan baru untuk menghindari kekecewaan konsumen. Nela melakukan cara itu dengan becermin pada pengalaman pribadi. Biasanya, dia tertarik membeli model jilbab yang dikenakan sang model. Namun, ketika dibeli dan dikenakan diri sendiri, ternyata jauh dari ekspektasi.

BANYAK yang heran dengan foto promosi Me langit, situs penjualan online. Model untuk promosi jilbab tidak pernah menampakkan wajah. Bukan tanpa alasan, sang pendiri Nela Indah Ermawati memiliki argumen yang ternyata sangat masuk akal.

Nela melakukan cara itu dengan becermin pada pengalaman pribadi. Biasanya, dia tertarik membeli model jilbab yang dikenakan sang model. Namun, ketika dibeli dan dikenakan diri sendiri, ternyata jauh dari ekspektasi.“Padahal, sudah yakin pantas, tetapi ketika dikenakan rasanya tidak sesuai,“ kata dia.

Pengalaman itulah yang mendasari Nela, perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk mulai menjual jilbab tanpa wajah model lewat Melangit.com, Melangit online shop. Target yang awalnya hanya jilbab segiempat kini telah merambah gamis, jilbab bergo (langsung pakai), dan pashmina (jilbab dengan bentuk segi panjang). Sampai saat ini, Melangit bertahan dengan penjualan melalui sistem online. Nela kini tengah disibukkan dengan pembukaan cabang produksi baru di Bandung.

“Karena bahan produksi banyak didapat dari Bandung, mengapa tidak buka cabang di Bandung juga?“ ujar Nela mengemukakan alasan pembukaan cabang Bandung.

Kini, Melangit yang berarti menuju surga (bahasa Filipina) telah memiliki 86 re-seller dari seluruh Indonesia.Pada 20 Oktober 2014, Melangit milad dengan mendatangi rumah yatim. Move mewawancara Nela di rumah produksi yang tak jauh dari rumah tinggalnya, berbincang ng lama untuk mengetahui kisah dan ide-ide unik Nela.

Berikut kutipan wawancaranya. Inspirasi apa yang mendorong kamu mendirikan Melangit?
Mencari jilbab yang aku rasa nyaman n itu sulit. Sampai sekarang yang masih nge-hithit itu jilbab paris. Kalau pakai mesti double.

Kalau kita pakai selembar tuh kupingnya a keliatan, lehernya keliatan.
Aku kangen sama jilbab zaman SMP yang tebal. Sampai akhirnya aku cari bahan dan jahit sendiri. Terus terpikir, karena enggak ada yang jual mengapa aku enggak jual sendiri? Kenapa tercetus untuk promosi dengan konsep tanpa wajah model?
Awalnya aku enggak suka beli baju melihat model fotonya cantik banget. Sementara itu, aku kan dengan postur yang segini, kalau beli ternyata enggak sebagus perkiraan. Jadi, bagaimana caranya supaya produk tidak menipu orang?

Aku enggak suka jual produk menggunakan model cantik, seakan kita jual modelnya. Dari situ muncul konsep promosi tanpa wajah model.Jadi konsep itu datang dari dirimu?

Kebetulan sih aku. Awal-awal kita masih kaku dalam pengambilan gambar dari samping, tapi sekarang sudah lancar.Apa reaksi orang terdekat mengetahui konsep itu?

Banyak sih yang bilang, “Gimana mau jualan kalau mukanya tidak keliatan?“ Tapi respons yang baik juga ada, “Wah ada juga nih yang kayak gini ternyata.“ Ya memang selalu ada pro dan kontra sih. Awal-awalnya sih kita sakit hati. Apalagi buat foto itu tidak gampang. Mesti mood-nya bagus, cuacanya bagus.Alasan kuat yang mendasari ide Nela?
Idealismenya biar wanita tidak terlalu dikomersialkan.Apa dengan cara itu harkat dan martabat perempuan terjaga?
Insya Allah. Karena perempuan dinilai bukan hanya dari kover. Bukan hanya dari fisiknya saja. Kita dinilai dari kualitas kita.

Jadi orang enggak menilai dari apa yang kita lihat di luar.Siapa saja model dan fotografer yang turut andil?
Saya sendiri, teman-teman dekat, dan teman-teman yang mau bantuin. Dulu sempat cari-cari teman untuk membantu Melangit foto, nanti setelahnya kita kasih jilbab. Karena kita makin sibuk sendiri, ya sudah kita yang foto.Konsep promosi seperti ini bisa menekan pengeluaran?

Iya, minim banget. Aku belum pernah pakai model yang berbayar. Paling berbayar jilbab sih. Kita meminimalkan semaksimal mungkin.Bagaimana tanggapan konsumen dengan promosi seperti ini?
Awal merintis seringnya sih dicibir. Tapi sekarang banyak yang ikutan. Ada yang tanya bagaimana cara pengambilan gambarnya? Kalau mengikuti yang baik-baik, tidak masalah.Adakah kisah menarik saat pemotretan?
Kesulitan saat pemotretan itu pasti ada. Kalau foto dengan menggunakan bergo itu cukup mudah untuk berganti jilbab. Namun, jika menggunakan khimar (jilbab segiempat) itu lebih ribet. Selain itu, pernah kehujanan saat pengambilan foto di Kebun Raya Bogor.
Selain itu, setelah foto disebar, banyak juga yang masih tertarik dengan model, bahkan mau berkenalan dan melamar model.

Padahal, foto Melangit tidak menampakkan wajah.Dalam pengambilan gambar, pesan apa yang Melangit ingin sampaikan?
Pesan dasarnya sih, pengin kasih tahu, pakai jilbab perintahnya harus menutupi dada dan tidak boleh membentuk seperti tertulis di Surah Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur 31.Aku pengin nunjukkin ke orang-orang yang enggak tahu ayat itu kalau sebenarnya kita disuruh pakai jilbab panjang, tapi kita masih bisa tetap tampil cantik. Stereotip yang terbentuk di masyarakat, orang yang pakai jilbab panjang itu eksklusif, enggak bisa gaul, terus yang pendiem banget, dan menutup diri.Aku mau buktiin enggak kayak gitu lo. Kita bisa tampil cantik, anggun, dan jadi diri sendiri. Kita tidak dinilai dari tampak luar kita.Tantangan apa yang dihadapi Melangit?

Mengalahkan diri sendiri. Musuh paling besar ialah diri sendiri. Sampai sekarang masih terasa. Mau kerja terkadang malas. Kita harus mengalahkan diri sendiri untuk menaklukkan segalanya.Kini ada pengotakan antara jilbab panjang yaitu jilbabers dan hijabers, bagaimana menurut Nela?
Yang penting ialah sudut pandang yang harus diluruskan. Orang yang menilai kalau jilbabers itu, seperti kita, enggak keren padahal mereka enggak tahu kalau kita keren. Yang hijabers seperti itu karena mereka belum tahu pakai jilbab yang benar seperti apa. Nah kita mau menjembatani itu.

Kita mau meramu keduanya. Kita kasih pandangan ke hijabers kalau pakai jilbab syari masih bisa keren lo.Untuk yang jilbabers, pakai jilbab yang syari juga masih bisa tetap keren. Yang keren bukan cuma hijabers, yang syari bukan hanya jilbabers. Terkadang yang terjadi ialah miskomunikasi. Yang hijabers tidak tahu, yang jilbabers menutup diri. Media Indonesia, 26/10/2014, Halaman : 19

0 komentar:

Posting Komentar