Tetap Segar saat Kemarau

Kulit bisa mengalami dehidrasi saat kemarau yang membuatnya terlihat kusam dan tidak bercahaya. DINNY MUTIAH INAR matahari di sekitar ekuator rupanya sedang royal. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geoļ¬ sika (BMKG) memperkirakan temperatur cuaca rata-rata di Indonesia saat siang hari mencapai 28-35 derajat celsius. Tidak mengherankan jika tubuh berkeringat dengan mudahnya. Belum habis diseka, butir-butir keringat baru mengucur dengan deras.

Spesialis kulit dan kelamin Lilik Norawati menyatakan penguapan cairan dari permukaan kulit pada musim kemarau akan meningkat dan memicu kekeringan pada kulit. Kondisi tersebut bisa terjadi tidak hanya pada mereka yang berjenis kulit kering, tetapi juga yang memiliki jenis kulit berminyak. Kulit yang kering, pecah-pecah hingga terkelupas menjadi ciri-ciri yang tampak dari kondisi tersebut dan paling sering terjadi di area tangan, tumit, wajah, dan bibir.

Meski memiliki penampakan yang mirip, kekeringan pada kulit ini tidak bersifat jangka panjang seperti jenis kulit kering. Kekeringan pada kulit itu bisa dicegah dan diatasi dengan pelembab. Pelembab yang baik, menurut Nora, ialah yang sesuai dengan jenis kulit, mudah diserap, tidak lengket, dan jika perlu juga mengandung tabir surya untuk melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari.

Penggunaan tabir surya juga dapat dipisahkan penggunaannya dari pelembab. “Pelembab yang baik itu tidak membuat lengket karena kulit banyak berkeringat. Maka itu, bentuk sediaannya harus diperhatikan juga. Untuk kulit kering, sebaiknya menggunakan bentuk krim. Sementara itu, untuk kulit berminyak, sebaiknya menggunakan bentuk losion,” terang Lilik yang akrab disapa Nora kepada
Media Indonesia di Jakarta, Selasa (7/10).Sediaan gel Selain sediaan krim dan losion, produk pelembab juga hadir dalam bentuk gel. Nora menyampaikan pengguna produk gel umumnya ialah kaum adam. Mereka menyukainya karena lebih mudah diserap kulit, formulasinya ringan dan tidak terasa lengket.

Bentuk sediaan itu bisa digunakan baik oleh kulit berminyak maupun normal. “Tapi, tergantung kesukaan si pemakai,“ cetusnya. Belakangan, produsen kosmetik mengeluarkan tren terbaru terkait produk pelembab ini. Mereka menyebutnya sebagai sorbet. Bentuknya mirip dengan gel, tetapi diklaim memiliki kemampuan menahan air yang cukup lama. Dengan kemampuan tersebut, fungsi melembabkan kulit bisa bertahan lebih panjang.

Salah satu produsen yang menawarkan produk tersebut ialah The Body Shop. Produsen kosmetik asal Inggris itu melansir Vitamin E Aqua Boost Sorbet untuk pelembab wajah dan Body Sorbet untuk melembabkan kulit tubuh. Kedua produk tersebut terinspirasi dari es krim sorbet yang memberi sensasi segar dan dingin ketika diusapkan pada kulit.

“Produk ini menerapkan aquasphere technology yang berbentuk butiran yang punya kemampuan untuk menyerap air sangat banyak. Dengan teknologi itu, pelembab bisa bertahan 24 jam di kulit kita,“ terang Training Manager The Body Shop Indonesia Ilya Kamelia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain kemampuan menyerap air, butiran tersebut juga bisa mengeluarkan air sedikit demi sedikit sembari mengikat minyak yang keluar dari kulit tubuh. Alih-alih tampilan mengilap, penggunaan sediaan sorbet menghasilkan tampilan matte. Untuk membuktikannya, konsumen disarankan untuk langsung mencoba produk pelembab tersebut langsung di bagian tubuh yang dituju.

“Kelebihan lainnya ialah sorbet ini meski sudah tidak ada di permukaan kulit, tapi kelembabannya tetap bertahan karena pelembab bekerja di lapisan dermis. Berbeda dengan pelembab biasa yang hanya bekerja di lapisan kulit luar (epidermis). Dengan kelembaban terjaga, proses penuaan pun diperlambat,“ tukasnya. (S-5) Media Indonesia, 17/10/2014, halaman 25

0 komentar:

Posting Komentar