Tangani Segera Kelainan Bawaan

Kelainan struktur organ tubuh yang dibiarkan akan berdampak buruk bagi perkembangan fisik dan psike anak. “Operasi penanganan kelainan bawaan sebaiknya dilakukan saat bayi supaya anak lupa dengan kejadian itu.“

Ruankha Bilomi Dokter spesialis bedah anak KELAINAN bawaan pada struktur organ tubuh bayi memerlukan tindakan penanganan secara cepat dan tepat. Hal itu bertujuan mengoptimalkan tumbuh kembang si bayi. Umumnya, penanganan dilakukan lewat prosedur pembedahan.Menurut dokter spesialis bedah anak dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, dr Ruankha Bilomi SpBA, kelainan bawaan yang cukup sering terjadi antara lain fimosis, yakni penyempitan atau perlengketan kulup penis sehingga kepala penis tidak bisa terbuka sepenuhnya.

Akibatnya, terjadi penumpukan kotoran dan yang terburuk ialah bayi kesulitan buang air kecil. Kendati tidak semua kasus fimosis perlu penanganan medis, banyak di antaranya yang berujung pada infeksi saluran kencing.

“Sekitar 80 persen kelahiran bayi lakilaki disertai dengan fimosis. Penanganannya ya dengan sunat,“ kata Ruankha.
Selain fimosis, jenis kelainan bawaan lain yang juga kerap terjadi yaitu hernia, atresia ani (bayi lahir tanpa lubang anus), dan hipospadia (lubang kencing tidak tepat di ujung penis).

“Sekitar 60 persen kasus atresia ani, hipospadia, dan penyakit kongenital (bawaan) lainnya disebabkan faktor genetis. Sisanya baru disebabkan fak tor lingkungan,“ ujar dia.

Karena itu, lanjutnya, penting bagi ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Lewat USG, di usia kehamilan sembilan minggu, kelainan bawaan pada janin sudah bisa dideteksi. Memang, kelainan itu tidak bisa dicegah. Namun, tindakan deteksi dini itu bermanfaat untuk mempersiapkan penanganan dini.

Ruankha mencontohkan kasus yang berakibat fatal bila telat ditangani, yaitu gastroschisis atau kondisi usus bayi berada di luar perut. Dalam kasus itu, dalam kurun 12 jam setelah kelahiran tindakan medis harus sudah dilakukan sebab usus di luar perut tersebut rentan terkena kuman penyebab infeksi. “Banyak bayi dengan gastroschisis meninggal karena telat tertangani. Mereka sudah terlebih dulu terkena infeksi. Ini bisa dicegah kalau sejak awal sudah diketahui bahwa bayi mengalami kelainan itu,“ tambahnya.

Ruankha juga menyarankan ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan protein dan vitamin B12. Kedua zat gizi itu berperan besar dalam proses pembentukan organ janin.
Selain itu, ibu hamil harus menghin dari rokok, obat-obatan hormonal, dan rontgen. “Juga hindari stres dan lakukan pemeriksaan rutin minimal sebulan sekali,“ imbuhnya.

Tepis mitos Meski ada kelainan bawaan yang penanganannya bisa ditunda, seba gai ahli bedah anak Ruankha me nyarankan agar tindakan medis yang melibatkan operasi dilakukan sebe lum anak berusia 14 tahun. Alasan nya, lewat dari usia tersebut, kelainan yang ada akan berdampak pada psike dan menghambat pertumbuhan anak.

Idealnya, lanjut Ruankha , operasi dilakukan sebelum anak masuk sekolah.Yang terbaik malah di usia bayi sebelum satu bulan.
Penelitian menyebutkan, di usia kurang dari satu bulan, bayi cenderung tidak merasakan sakit saat dioperasi. Penelitian juga yang menunjukkan manusia lupa kejadian pada tiga tahun pertama kehidupannya.

“Itulah sebabnya operasi penanganan kelainan bawaan sebaiknya dilakukan saat bayi supaya anak lupa dengan kejadian itu. Bagaimanapun, itu berdampak pada psikenya,“ tegas Ruankha. Namun, itu tentu saja bergantung pada jenis kelainannya. Kasus hipospadia, misalnya, baru dapat ditangani pada usia enam bulan karena harus menunggu jaringan penis cukup kuat untuk dibedah.

Namun, untuk kasus seperti fimosis, sebaiknya bayi segera disunat.“Sunat semasa bayi menguntungkan.Dalam waktu 1-3 hari bayi bisa pulih karena aktivitasnya masih sedikit.Bayi juga tidak terganggu rasa sakit yang berdampak pada psikenya,“ papar Ruankha.
Sayangnya, menurut Ruankha, masih saja banyak orangtua yang khawatir tumbuh kembang anak mereka akan terganggu karena sudah disunat saat masih bayi. Ruankha menepis mitos tersebut. Ia menegaskan kulit berlebih pada penis yang dipotong saat proses khitan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan anak.

“Itu jelas mitos yang keliru karena tidak ada hubungannya sunat dengan pertumbuhan,“ tambahnya. Hanya, Ruankha menggarisbawahi agar operasi pada bayi, seperti sunat, dilakukan dokter ahli demi keakuratan tindakan. Ia menyarankan agar sunat pada bayi sebaiknya dilakukan dokter spesialis bedah anak yang lebih memahami anatomi anak.

“Yang menjadi kendala, saat ini hanya ada 89 dokter bedah anak di Indonesia dan 39 di antaranya ada di Jakarta. Masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya pasien,“ tutup dia. (H-3) Media Indonesia, 5/11/2014, halaman 25

0 komentar:

Posting Komentar