Stres bisa Memicu Obesitas pada Anak

DATA Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2013 menunjukkan lebih dari 1,4 miliar orang dewasa di seluruh dunia kelebihan berat badan dan sedikitnya 2,8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun karena penyakit-penyakit yang disebabkan obesitas.
Di Indonesia sendiri, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, terdapat 13,5 persen penduduk dengan berat badan berlebih dan 15,4 persen mengalami obesitas.

Obesitas terkait erat dengan gaya hidup tidak sehat. Gaya hidup itu cenderung sudah terbentuk sejak masa anak-anak. Pakar nutrisi dari perusahaan global Herbalife, dr Nataniel Viuniski, mengungkapkan 10 persen anak dari seluruh dunia mengalami obesitas.

“Obesitas disebabkan pola hidup tidak sehat. Yang mengkhawatirkan, pola hidup tidak sehat yang sudah menjadi kebiasaan dari sejak kecil menciptakan generasi dewasa yang juga akan mengalami masalah serupa,“ ujar Viuniski yang hadir di Indonesia dalam rangka penyelenggaraan Wellness Tour Asia Pacific 2014 di Jakarta, Selasa (28/10).

Viuniski yang juga seorang dokter anak itu menjelaskan saat ini anakanak, terutama di kota-kota besar, cenderung menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar monitor, entah itu layar komputer, televisi, maupun perangkat gim. “Rata-rata lebih dari 5 jam per hari dihabiskan di depan layar. Padahal, batas sehat yang disarankan hanya 1-2 jam per hari. Akibatnya, mereka minim beraktivitas fisik,“ paparnya.

Selain itu, kesalahan dalam pola makan mengakibatkan obesitas. Anggota Dewan Penasihat Nutrisi Herbalife itu menyebut kerap kali anak terburu-buru dan melupakan makan pagi. Padahal, sebetulnya makan pagi merupakan yang paling penting dan bisa mencegah obesitas.

Satu faktor lain yang kerap terlupakan, yaitu faktor stres. “Dalam pengaturan berat badan yang selalu THINKSTOCK ditekankan ialah pola makan sehat dan olahraga cukup. Akan tetapi, ada satu hal yang sering kali terlupakan, yaitu stres.“

Butuh bermain Menurut Viuniski, stres sering kali menjadi faktor utama obesitas pada anak. Ujian, pekerjaan rumah, pelajaran tambahan, les, dan lain-lain menjadi beban yang menumpuk di pikiran anak sehingga menyebabkan stres. Ketika seseorang stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang mengganggu metabolisme yang pada akhirnya menimbulkan obesitas. Selain itu, hormon tersebut menimbulkan rasa lapar berlebih. Itu sebabnya sebagian orang mengalami peningkatan nafsu makan ketika sedang stres.

Kurikulum sekolah yang keliru, lanjutnya, bisa menyebabkan stres pada anak. Tuntutan agar anak menjadi yang terbaik di antara teman-temannya juga memicu stres.Karena itulah, Viuniski mengimbau agar penyusunan kurikulum dan pola asuh orangtua harus dilakukan secara bijak.

“Perlu diingat, anak-anak butuh bermain menggerakkan tubuh.Saat anak-anak bermain menggerakkan tubuh, otak memproduksi neurotransmiter yang dapat menetralisasi hormon kortisol tersebut,“ tambah dokter asal Brasil itu.

Pada kesempatan sama, General Manager Herbalife Indonesia Andam Dewi menambahkan kegiatan Wellness Tour Asia Pacific 2014 diselenggarakan Herbalife di 25 kota di negara-negara Asia Pasifik. Di antaranya Indonesia, Australia, Kamboja, Hong Kong, India, Jepang, Korea, Makao, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Kegiatan itu bertujuan menyosialisasikan gaya hidup sehat. “Masyarakat Indonesia tidak luput dari kecenderungan untuk mengalami obesitas.Edukasi dan penerapan gaya hidup sehat menjadi penting untuk masyarakat,“ pungkasnya. (*/H-3) Media Indonesia, 5/11/2014, halaman 25

0 komentar:

Posting Komentar