Senin, 17 November 2014

Mode Indonesia Dibayangi Dugaan Plagiarisme

MESKI ajang mode Jakarta Fashion Week 2015 telah berakhir Jumat (7/11), koleksi dari ajang penutup yakni Dewi Fashion Knights (DFK) ramai dibicarakan hingga kini, khususnya soal koleksi Priyo Oktaviano. Priyo merupakan satu dari lima desainer yang terpilih tampil di peragaan yang dipersembahkan majalah Dewi.

Sayang, bukan pujian yang dialamatkan untuk koleksi Priyo, melainkan koleksi bertajuk African Blu diduga merupakan plagiarisme dari koleksi desainer berdarah Nepal-Amerika, Prabal Gurung. Kesamaan koleksi Priyo dengan koleksi Prabal yang dipamerkan di New York Fashion Week itu diungkap akun Instagram Nyinyirfashion. Selain Priyo, ada beberapa desainer lain Indonesia yang koleksinya dianggap mirip dengan koleksi desainer luar.

Itu seperti koleksi Sapto Djojokartiko dengan The Row, koleksi desainer muda Felicia Budi dengan Christopher Kane, bahkan koleksi Biyan dengan Antonio Marras. Namun, jika koleksi-koleksi itu masih mudah terlihat perbedaan dalam detail ataupun komposisi, koleksi Priyo memang terlihat sangat mirip.

Koleksi Priyo seperti hanya berbeda warna dengan koleksi semi/gugur 2014 Prabal Gurung yang diperagakan di New York pada Februari 2014. Koleksi tersebut berupa gaun-gaun dengan potongan asimetris, teknik cut out, dan material beragam. Lalu ada pula busana Priyo yang mirip dengan koleksi musim semi/ panas 2015 Prabal Gurung yang diperagakan di New York pada September 2014.Kesamaannya terutama terlihat pada setelan blazer-celana dengan aksen garis hitam.

Pada Rabu (12/11), majalah Dewi melalui situsnya mengumumkan bahwa Priyo mengundurkan diri dari desainer DFK. Pengunduran diri yang diterima Selasa (11/11) itu diterima majalah Dewi, tetapi tidak dijelaskan alasan di baliknya. Saat dihubungi Media Indonesia, melalui pesan singkat pada Kamis (13/11) Priyo ha nya menjawab, “Maaf, saya belum bisa beri keterangan lebih lanjut tentang ini, terima kasih. Tetap semangat, all the best.“

Terkait dengan dugaan plagiarisme tersebut, desainer senior Musa Widyatmodjo mengakui belum ada aturan baku tentang plagiarisme di industri mode. Namun, secara umum sebuah rancangan memiliki enam unsur penting sebagai pembentuknya, yakni siluet, potongan (cutting), bahan, komposisi, warna, dan model. “Kalau sebagian besar dari unsur itu mirip, ya, bisa dikatakan meniru.Nah Priyo dengan Prabal Gurung ini kan hampir 80% sama,“ ujar Musa, Rabu (12/11).

Pembelajaran Lebih lanjut Musa mengatakan sedikit kemiripan rancangan antara satu desainer dan desainer lain sesungguhnya memang bisa terjadi jika mengacu kepada pengarahan tren yang sama. Arahan tren itu memang rutin setiap tahun dikeluarkan perusahaan pembaca tren.

Namun, hasil rancan gan semestinya tetaplah berbeda karena setiap desainer punya terjemahan masingmasing. “Oleh perusahaan tren memang dikeluarkan, misalnya potongan atau gaya apa yang akan tren tapi hasil akhirnya harusnya tetap berbeda karena yang namanya perancang mode harus melakukan riset masing-masing,“ tutur Musa.

Mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) itu menuturkan umumnya seorang perancang mode membutuhkan waktu satu bulan untuk menerjemahkan arahan tren ke dalam konsep mereka masing-masing. Setelah itu, dibutuhkan tiga bulan lagi untuk mendesain rancangan.Total dibutuhkan waktu sembilan bulan untuk menghasilkan koleksi baru.

Makin banyaknya perhelatan mode di Jakarta, ia nilai memang bisa membuat desainer terbebani untuk menghasilkan koleksi dengan cepat. Namun, plagiarisme tetap tidak dapat dibenarkan.Terlebih jika melihat siklus industri mode di luar negeri, maka desainer memang harus bisa beradaptasi dengan ritme cepat.

Terungkapnya dugaan plagiarisme oleh Priyo itu, menurut Musa, merupakan pembelajaran bagi banyak pihak. Seluruh pelaku mode harus menyadari bahwa dengan era informasi yang cepat, orisinalitas karya mereka akan semakin diuji.

Pembelajaran juga harus diambil para penyelenggara acara fesyen tentang pent ingnya peran fesyen konsul. Badan inilah yang semestinya menjadi pintu gerbang untuk memastikan kualitas karya yang akan tampil. Sementara itu, bagi asosiasi atau ikatan perancang, Musa juga berpendapat seharusnya memberikan teguran atau pembinaan agar plagiarisme tidak terjadi lagi. (Wnd/M-4) Media Indonesia, 16/11/2014, halaman 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar